![]() |
| Photo Credit: tumblr. |
Teruntuk Nonaku
: dengan penuh kerinduan.
Pada pertengahan petang yang hampir
menyublim, aku memberanikan diri menuliskan surat ini. Spesial. Untuk Nona.
Meskipun tidak ada gerimis seperti kesukaan Nona, tetapi semoga saja Nona
memaknainya seperti aku yang membenamkan rasaku di setiap aksaranya.
Apa kabar Nona?
Semoga semesta masih setia membungkus Nona
dengan segala kebaikannya. Petang ini, lembayung mulai membenamkan eloknya di
Barat. Aku teringat pada perjumpaan kita kali pertama. Perbolehkan aku
menceritakan kisah kita pada orang-orang ini, Nona.
Saat itu, 25 Mei 2007—ah, aku masih
mengingat detailnya—Nona masihlah anak kecil ingusan yang baru lulus SD
kemarin. Aku hanya diperbolehkan menatap Nona dari jauh, yang tengah kegirangan
diterima di SMP favorit impian Nona. Sepertinya begitu. Hebatnya, hari itu
semesta berkonspirasi mempertemukan kita.
Aku memang terlalu pemalu, Nona. Tidak
berani menyapa duluan. Akhirnya ditemani Abee, Nona menyapaku duluan. Ceria,
dengan muka cemong penuh keringat saking bersemangatnya. Lalu, kata pertama
Nona padaku:
“Halo, Bung! Kamu teman
pertamaku. Sepertinya kita akan jadi sahabat baik, ya.”
Hanya itu. Lalu aku kehabisan kata, hanya
mengedipkan mataku —yang Nona bilang
layar mungil— dengan ragu-ragu. Dan, Nona benar. Kita rupanya berhasil
menjalin persahabatan hampir selama enam tahun.
Selama itu, aku tahu nama Nona: Asma.
Namun, aku lebih suka memanggil dengan: Nona. Karena Nona memanggilku: Bung!
Aku ingin agar kita terdengar lebih mesra. Seperti pacaran. Aku nakal ya, Nona?
Hehehe.
Nona masih suka membaca?
Dulu kita sering menghabiskan waktu berdua,
ya. Nona sibuk melafalkan paragraf, sementara aku, ah, aku hanya sibuk memandangi
wajah sendu Nona. Ketahuan. Hal paling menyenangkannya, ketika Nona menemukan kalimat
syahdu, kemudian berbagi padaku. Nona akan melirihkan kata, membenamkan jemari
Nona di punggungku, memukulkan delete di
layarku, dan memilin hidungku, save
messages. Lalu, aku selalu menyimpan semuanya baik-baik. Di ingatanku.
Dalam kotak draft.
Berdua. Kita memasuki fase pendewasaan, orang
bilang: alay. Awalnya aku jengah ketika
Nona sering mengetuk tubuhku setiap hari. Mengirimkan pesan-pesan tidak penting
untuk teman-teman Nona. Aku bahkan tidak mengenalnya. Memperlihatkan alfabet besar
kecil berhamburan dengan angka-angka. Ketika Nona bilang ingin mengganti nama
menjadi: aZzMh4. Aku heran. Apa Nona baik-baik saja?
Nonaku,
Semoga Nona selalu bisa bangun pagi dengan
menyenangkan di sana. Meskipun tidak ada aku yang membangunkan Nona seperti
dulu. Seperti biasanya. Aku tahu, meskipun Nona seringkali mengeluh berisik
mendengar celotehanku, kemudian sibuk terlelap lima menit setelahnya, tapi Nona
sudah berusaha menjadi seorang gadis yang manis. Gadis yang rajin bangun pagi.
Ah, aku tahu. Saat ini Nona sudah pandai
menjaga diri Nona, sebaik Nona menjaga persahabatan kita selama enam tahun ini.
peluk hangat,
Kotak persegi empat segenggaman tangan,
yang dulu Nona panggil: Bung!






