![]() |
| photo credit: sumber |
Beberapa
hari yang lalu, saya akhirnya memutuskan membawa pulang ‘Eliana’ milik Tere Liye setelah berpikir-cukup-keras di selasar
toko buku. Alasannya,
Satu. Suatu pagi, dulu, saya berencana
berhenti membeli buku-buku kepunyaan Tere Liye karena sepertinya saya mulai
merasa jenuh dengan gaya bercerita beliau yang lagi-lagi seperti itu. Saya yakin, bahwa Tere Liye telah berhasil
membuat personal branding di setiap
bukunya, tetapi entah kenapa, setelah membaca hampir semua bukunya, justru
membuat saya bosan.
Dua. Belakangan, alasan saya
memproklamirkan diri untuk berhenti membaca buku Tere Liye atau buku-buku
romantis lain adalah untuk menghilangkan kebiasaan saya membubuhkan flowery words pada tulisan saya.
Meskipun itu ternyata tidak berhasil karena… hahaha, gaya menulis saya rupanya
memang begitu.
Tiga. Saya jatuh cinta dengan Aan Mansyur
dan fiksimini, pun flashfiction. Ah, juga cerita-cerita ‘enteng’ kepunyaan Pidi Baiq.
Setelah
berdebat sendiri, akhirnya saya memutuskan untuk membawa pulang buku itu. Iya,
saya memang mudah melanggar janji yang saya buat—untuk diri saya sendiri,
khususnya.
Ah.
Saya tidak pandai menuliskan review karena
saya ternyata tipikal perempuan yang nerimo
dan tidak mau susah payah protes untuk hal-hal yang memang sudah seharusnya begitu. Jadi, di luar typo yang cukup
mengganggu dalam buku ini (ada beberapa salah ejaan, bahkan salah penyebutan
nama tokoh!), seperti biasa, Bang Darwis Tere Liye nyaris membuat hati saya pecah berkeping-keping.
Ada
beberapa catatan yang saya buat ketika membaca buku ini:
1. Saya
sepakat, bahwa menjadi anak sulung itu menyebalkan, sekaligus menyenangkan.
Seperti yang Eliana bilang, ‘anak sulung
selalu menjadi yang pertama disuruh-suruh...’
Dari
dulu saya yakin, ada yang memasang semacam autoprogram
pada Abi dan Umi untuk otomatis memanggil nama saya setiap kali mereka
membutuhkan bantuan. Dan, membutuhkan penerimaan luar biasa (bagi saya) untuk
memahami bahwa, anak pertama sebetulnya
diberi limpahan nikmat yang luar biasa karena (selalu) dipercaya membantu
pekerjaan Abi dan Umi, bukannya menjadi pesuruh paling setia.
Oh,
pikiran super filosofis seperti ini tidak begitu saja merasuki nyawa saya. Saya
tidak sebegitu baiknya, guys.
Sementara
hal yang menyenangkan menjadi anak sulung adalah, hmm, apa ya. Ada ide?
2. Cerita
cinta Mamak-Bapak. Iya, menurut saya, salah satu bagian menarik dari kisah
cinta seseorang adalah bagaimana awal mula mereka bertemu, atau bagaimana
mereka bisa saling jatuh cinta. Lucu, ketika pengakuan cinta justru terjadi
secara tidak sengaja meskipun saya yakin bahwa Tuhan telah menuliskannya
jelas-jelas.
Selanjutnya,
ada bagian ‘kode’ antara Eliana dan Marhotap—kawan lelakinya, yang saya kira
pada akhirnya akan menikah, hidup bahagia selamanya, happy ending. Sayangnya, Tere Liye memang pandai membuat pembacanya
ber-yaa kecewa. Spoiler sedikit,
Marhotap justru diceritakan menghilang begitu saja di klimaks cerita. Jodoh
memang tidak bisa tebak-tebak buah manggis.
Oh
iya, saat membaca bagian ini saya justru teringat padamu. Jatuh cinta itu
memang tidak sesederhana kelihatannya, bukan?
3. Sepanjang
cerita, membuat saya bertambah percaya bahwa cara mendidik orang tua sangat
mempengaruhi perilaku seseorang, dan kekuatan pemahaman seseorang mengenai
sesuatu sangat dipengaruhi oleh pengalaman—pun bumbu-bumbu kehidupan, juga
besarnya kemauan seseorang untuk memahami. Seperti Eliana. Bukan Asma.
4.
Ada satu kalimat-panjang yang saya
tandai: ‘jika kau tahu sedikit saja apa
yang telah seorang Ibu lakukan untukmu, maka yang kau tahu itu sejatinya bahkan
belum sepersepuluh dari pengorbanan, rasa cinta, serta rasa sayangnya kepada
kalian.’
Saya
tandai bukan karena apa-apa, hanya saja membuat mata saya memanas saat membaca
bagian ini. Bahwa, ada satu—atau banyak—pemahaman yang terlambat saya sadari
mengenai Umi saya sendiri. Ah, mungkin akan saya ceritakan kapan-kapan mengenai
hal ini, soalnya tidak akan habis dalam 1000 kata. Kapan-kapan, ya, kalau
Yogyakarta sudah hujan. Hehehe.
Saya
pun akan mengakhiri tulisan ini dengan menyelamati diri saya sendiri, atau pun
kamu, kalau saja secara kebetulan kamu adalah anak pertama di keluargamu.
Selamat menjadi anak sulung, Kawan! Bahwasanya
menjadi anak sulung tidak selalu semenyedihkan orang-orang bilang. Semangat,
ya! Semua pengharapan dan doa-doa terbaik dari Abi dan Umi bergumul padamu.
Yogyakarta, 31 Oktober 2014
Oke, sejujurnya ini adalah salah satu posting yang terlambat
(sangat-amat-terlambat) saya post di harian iseng karena... akan saya ceritakan
di post berikutnya, kalau tidak hujan. Hehehe.
Resolusi saya tahun 2014 lalu adalah setidaknya belajar menuliskan satu review di harian iseng. Dan, telah saya bayarkan!
.jpg)



