Sometimes it feels like we are meant to be together. Sometimes it feels like there are only both of us, against the world, having each other, sipped a glass of chocolate classic together, argue about typical-girl-I-have-to-have, talk for hours about everything. Sometimes it feels like you are the right one whom I spill that three-letter-word, I love you, I miss you, I need...
Too many people spend money they earned to buy things they don’t want, to impress people they don’t like. —Will Rogers. Once, I was crawling on my nest and did a very-merry-yuppy-really unimportant stuff that day. Well, you know, like check my friends’ instagram for nothing but only fulfill my curiosity about them. Okay. Before you guys suggest me to stop that no-benefits-at-all-instead-of-wasting-your-time...
‘Halo, Dek.’ Baru beberapa menit lalu aku tiba di rumah. Sudah hampir maghrib. Dan bukannya segera mandi sebelum Nyonya Besar mulai mengomel—‘anak perempuan harus lebih sigap dong!’ Aku justru bersemangat sekali membuka netbook, bermaksud melampiaskan nafsu menulis setelah bertemu kalian tadi sore. Kamu berdua mungkin akan terkejut kalau suatu hari menemukan remahan surat ini di sudut lini masa. Siapa tahu ada angin yang...
Hai. Tiba-tiba kamu datang begitu saja ketika aku mulai menulis sore ini, membuat keinginan menulisku reda. Padahal awalnya aku mau menulis untuk Langit. Ingin berterima kasih karena diberi hadiah Sirius pagi kemarin. Uh. Semuanya jadi kacau dan tidak berjalan sesuai rencana karena kedatanganmu. Lihat. Kamu bahkan masih sempat cengengesan mendengar grundelan-ku, ya! Jangan marah kalau aku bilang begini tapi itu memang benar. Biasanya...
Sebetulnya kalau boleh jujur, saya termasuk yang payah setiap kali harus menulis bertema. Apa saja. Misalnya saja, event ’30 Hari Menulis’ yang tahun lalu saya ikuti. Saya payah. Belum-belum memulai pertempuran by one dengan layar kosong netbook, saya sudah menyerah duluan karena tidak tahu mau menuliskan apa. Apalagi menyelesaikan tulisannya. Puh. Lalu jika ditanya menulis surat cinta tema pertama di #30HariMenulisSuratCinta ini. Apa...
Sepotong senyum yang kau titipkan pada arakan senja, menghapus kesalku jadi tawa merekah —Moammar Eka Halo. Kamu ingat, tidak. Dulu, kesalmu adalah ketika diminta menunggu. Kesalmu yang menyelamat-datangi kedatanganku dengan muka masam tak acuh. Aku membalasnya dengan tawa cengengesan tidak berdosa, merasa tidak perlu meminta maaf. Menit berikutnya akan kamu habiskan dengan diam. Diam saja. Mengomentari keluhanku tentang hujan yang terlambat datang dengan...
Aku tak pernah bisa marah karena bagiku kau adalah anugerah terindah yang mendekap barisan hariku penuh bahagia tumpah ruah —Moemmar Eka. “Halo.” Aku sedang memikirkanmu—sedikit, ketika memulai sesi menulis pagi ini. Entah kenapa aku ingin memberitahumu sesuatu bahwa akhir-akhir ini, aku selalu bertanya-tanya saat kamu tiba-tiba menghilang; “Kamu sedang apa? Berada di mana? Kamu baik-baik saja, bukan?” Pun pikiran yang selintas lewat di...
Dear Hanny. Hai. Hm, begini pagi ini tiba-tiba saja aku merasa ingin menulis untukmu. Bukan sekadar mengirimkan chat via whatsapp atau iseng mengomentari postingan milikmu di path seperti yang kadang-kadang aku lakukan. Mungkin ini suatu pertanda kalau hari ini adalah hari spesial buatmu. Atau bisa juga untuk aku. Aku juga heran kenapa hari ini agak sedikit berbeda. Aku sedang menstruasi dan saat seperti...