Belajar dari Eliana

Rabu, Januari 21, 2015

photo credit: sumber
Beberapa hari yang lalu, saya akhirnya memutuskan membawa pulang ‘Eliana’ milik Tere Liye setelah berpikir-cukup-keras di selasar toko buku. Alasannya,

Satu. Suatu pagi, dulu, saya berencana berhenti membeli buku-buku kepunyaan Tere Liye karena sepertinya saya mulai merasa jenuh dengan gaya bercerita beliau yang lagi-lagi seperti itu. Saya yakin, bahwa Tere Liye telah berhasil membuat personal branding di setiap bukunya, tetapi entah kenapa, setelah membaca hampir semua bukunya, justru membuat saya bosan.

Dua. Belakangan, alasan saya memproklamirkan diri untuk berhenti membaca buku Tere Liye atau buku-buku romantis lain adalah untuk menghilangkan kebiasaan saya membubuhkan flowery words pada tulisan saya. Meskipun itu ternyata tidak berhasil karena… hahaha, gaya menulis saya rupanya memang begitu.

Tiga. Saya jatuh cinta dengan Aan Mansyur dan fiksimini, pun flashfiction. Ah, juga cerita-cerita ‘enteng’ kepunyaan Pidi Baiq.

Setelah berdebat sendiri, akhirnya saya memutuskan untuk membawa pulang buku itu. Iya, saya memang mudah melanggar janji yang saya buat—untuk diri saya sendiri, khususnya.

Ah. Saya tidak pandai menuliskan review karena saya ternyata tipikal perempuan yang nerimo dan tidak mau susah payah protes untuk hal-hal yang memang sudah seharusnya begitu. Jadi, di luar typo yang cukup mengganggu dalam buku ini (ada beberapa salah ejaan, bahkan salah penyebutan nama tokoh!), seperti biasa, Bang Darwis Tere Liye nyaris membuat hati saya pecah berkeping-keping.

Ada beberapa catatan yang saya buat ketika membaca buku ini:

1. Saya sepakat, bahwa menjadi anak sulung itu menyebalkan, sekaligus menyenangkan. Seperti yang Eliana bilang, ‘anak sulung selalu menjadi yang pertama disuruh-suruh...’

Dari dulu saya yakin, ada yang memasang semacam autoprogram pada Abi dan Umi untuk otomatis memanggil nama saya setiap kali mereka membutuhkan bantuan. Dan, membutuhkan penerimaan luar biasa (bagi saya) untuk memahami bahwa, anak pertama sebetulnya diberi limpahan nikmat yang luar biasa karena (selalu) dipercaya membantu pekerjaan Abi dan Umi, bukannya menjadi pesuruh paling setia.

Oh, pikiran super filosofis seperti ini tidak begitu saja merasuki nyawa saya. Saya tidak sebegitu baiknya, guys.

Sementara hal yang menyenangkan menjadi anak sulung adalah, hmm, apa ya. Ada ide?

2. Cerita cinta Mamak-Bapak. Iya, menurut saya, salah satu bagian menarik dari kisah cinta seseorang adalah bagaimana awal mula mereka bertemu, atau bagaimana mereka bisa saling jatuh cinta. Lucu, ketika pengakuan cinta justru terjadi secara tidak sengaja meskipun saya yakin bahwa Tuhan telah menuliskannya jelas-jelas.

Selanjutnya, ada bagian ‘kode’ antara Eliana dan Marhotap—kawan lelakinya, yang saya kira pada akhirnya akan menikah, hidup bahagia selamanya, happy ending. Sayangnya, Tere Liye memang pandai membuat pembacanya ber-yaa kecewa. Spoiler sedikit, Marhotap justru diceritakan menghilang begitu saja di klimaks cerita. Jodoh memang tidak bisa tebak-tebak buah manggis.

Oh iya, saat membaca bagian ini saya justru teringat padamu. Jatuh cinta itu memang tidak sesederhana kelihatannya, bukan?

3. Sepanjang cerita, membuat saya bertambah percaya bahwa cara mendidik orang tua sangat mempengaruhi perilaku seseorang, dan kekuatan pemahaman seseorang mengenai sesuatu sangat dipengaruhi oleh pengalaman—pun bumbu-bumbu kehidupan, juga besarnya kemauan seseorang untuk memahami. Seperti Eliana. Bukan Asma.

4. Ada satu kalimat-panjang yang saya tandai: ‘jika kau tahu sedikit saja apa yang telah seorang Ibu lakukan untukmu, maka yang kau tahu itu sejatinya bahkan belum sepersepuluh dari pengorbanan, rasa cinta, serta rasa sayangnya kepada kalian.’

Saya tandai bukan karena apa-apa, hanya saja membuat mata saya memanas saat membaca bagian ini. Bahwa, ada satu—atau banyak—pemahaman yang terlambat saya sadari mengenai Umi saya sendiri. Ah, mungkin akan saya ceritakan kapan-kapan mengenai hal ini, soalnya tidak akan habis dalam 1000 kata. Kapan-kapan, ya, kalau Yogyakarta sudah hujan. Hehehe.

Saya pun akan mengakhiri tulisan ini dengan menyelamati diri saya sendiri, atau pun kamu, kalau saja secara kebetulan kamu adalah anak pertama di keluargamu.

Selamat menjadi anak sulung, Kawan! Bahwasanya menjadi anak sulung tidak selalu semenyedihkan orang-orang bilang. Semangat, ya! Semua pengharapan dan doa-doa terbaik dari Abi dan Umi bergumul padamu.


Yogyakarta, 31 Oktober 2014
Oke, sejujurnya ini adalah salah satu posting yang terlambat (sangat-amat-terlambat) saya post di harian iseng karena... akan saya ceritakan di post berikutnya, kalau tidak hujan. Hehehe.

Resolusi saya tahun 2014 lalu adalah setidaknya belajar menuliskan satu review di harian iseng. Dan, telah saya bayarkan! 

You Might Also Like

8 COMMENTS

  1. Ya, jatuh itu memang tak sesederhana itu :)

    BalasHapus
  2. "Belajar dari Eliana"
    Dan tulisan ini sepertinya sedikit mengena diotak anak 'sulung selalu menjadi yang pertama disuruh-suruh...’ yang kebetulan gue juga anak sulung dan sepertinya ini ada benarnya :D

    BalasHapus
  3. "Iya, kalo gak, hujan." Keknya pangeran kenal sama kata2 ini. Punya siapa, ya.

    Ciyee domain dot com. Ciyeeee ceritanya mau ngerivew ni.... :D

    Gue ingetlah. Dulu, pertama kali mampir di sini. Blog lu udah buat gue terkesyan. "Pake y biar keren."

    Sering-sering deh, mampir di kerajaan wortel. :D

    Yang jelas, review pertama ini, keren. Lu udah berhasil buat pangeran pengen ke Gramedia dan menyusuri buku ini.

    BalasHapus
  4. Itu spoilernya dikit tapi bikin gak seru bacanya -___-

    gak tau kenapa orang2 pada suka sama tere liye tapi gue kok enggak ya .. udah coba baca kumpulan cerpennya dulu, tapi enggak sreg :D

    enaknya jadi anak sulung itu, bisa nyuruh adiknya kalo lagi males... iya, kayaknya sih gitu

    BalasHapus
  5. aku juga suka baca tere liye sih. lebih suka karena kandungan filosofis tulisannya. banyak pelajaran. dan yaa, memang sih mulai terlalu terbiasa dengan gaya berceritanya yang mempermainkan emosi

    BalasHapus
  6. Hahhaa perjanjian yg dilanggar ya Ma ;)
    Aku justru penasaran dg buku Tere Liye yg lainnya karena aku baru baca 1 karyanya saja hahha
    Mg aja keisenganmu ini terus membawa berkah dg cara produktivitas menulismu meningkat. See.. Km malah justru bsa buat postingan ini right? Hahhaa biarpun itu telat banget nulisnya. So.. Mg resolusimu tercapai ya

    BalasHapus
  7. iya, jatuh cinta memang tidak sesederhana kelihatannya..hmmm...cinta cinta...susah bingit. hehehe..Thanks reviewnya tentang buku nya Tere Liye...aku juga belajar banyak dari diksi yang dipakai tere Liye walau pun aku belum termasuk fans berat beliau...Tapi tere Liye memang keren banget!!! :D selamaaaat, resolusi kali ini tercapai :D

    BalasHapus
  8. Hahaha... kak asma. Perasaan aku lihat kak Asma nulis kalo habis baca Eliana, ya? Tapi sepertinya sudah lamaaaaa sekali saya baca status itu di facebook...

    Kak Asma. Saya juga pecinta Tere Liye, tapi setelah di buku yang ke-berapa-belas, saya menyadari ada beberapa tokoh yang ternyata mirip-mirip, dari segi posisi, dan juga watak. Tapi tetap saja selalu ada pemahaman baik yang bisa dipetik, tidak seperti romance-romance yang lain. Hehe..

    Anyway, aku entah kenapa, baru sadar kalo aku anak sulung setelah membaca paragraf berisi penyelamatan itu._. Dari atas-atas saya malah merasa kayak...... udah jadi bapak-bapak.

    Btw, sorry bwnya telat. Semoga tetap terbaca .-.

    BalasHapus

Hello, there! Welcome to harianiseng. Have you travel around here a lot, and get lost? Make sure to pay a visit later! Love.

FRIENDS OF MINE

Subscribe